//
you're reading...
Patologi Dewasa

Death Anxiety

Kematian adalah akhir kehidupan yang tidak dapat dihindari, tetapi bagaimana, kapan, dan dimana kematian terjadi sebagian besar orang tidak mengetahuinya. Terdapat juga ketidakpastian untuk banyak makna dari kematian (keterpisahan, non-eksistensi, awal dari kehidupan baru), bagaimana seseorang akan merespon ketika waktu kematian datang (penerimaan, marah, atau penyesalan), dan apakah pengaruhnya pada orang yang dicintai. Dengan banyaknya ketidakpastian yang menyelimutinya, beberapa level kecemasan mengenai kematian mungkin diekspektasi sebagai respon manusia secara khas. Survey dari ketakutan secara umum mengindikasikan bahwa ketakutan akan kematian sering dilaporkan dalam komunitas general sampel (Fretz & Leviton, 1979; D’Amanda, Plumb & Taintor, 1977; Robinson & Wood, 1983; Ungar, Florian & Zernitsky-Shurka, 1990).

Meskipun ketakutan terhadap kematian telah diteliti sejak akhir 1896 (Durkheim, 1897; Hall, 1896; Scott, 1896) dan telah dijadikan tema dalam beberapa literatur, pemahaman ilmiah terhadap konsep ini masih terbatas. Sampai saat ini, belum ada teori yang koheren mengenai kecemasan kematian yang dapat digunakan untuk praktik professional.

Kasenbaum dan Aisenberg (1972) mengajukan dalam analisis mereka bahwa ketakutan terhadap kematian adalah normal dan tampak pada pengalaman sehari-hari, beranegasegi, dan dipelajari dalam sosialisasi. Meskipun takut pada kematian dialami lebih akut dalam konteks khusus, seperti kejadian yang mengancam kehidupan atau bekerja pada pekerjaan yang berhubungan dengan kematian, dan dilaporkan lebih kuat pada orang yang secara klinis memiliki kecemasan yang tinggi, ketakutan dan kecemasan terhadap kematian merupakan komponen dari kehidupan sebagian besar orang. Ini berarti bahwa ada kemungkinan untuk melakukan penelitian pada populasi normal.

Definisi Kecemasan Kematian

Kecemasan kematian telah menjadi topik psikologis yang menarik di tahun 1950-an. Namun, definisi dari kecemasan kematian telah menjadi tugas yang paling membingungkan para peneliti sampai hari ini. Kastenbaum & Costa (1977) menyatakan banyak kebingungan dalam litertatur death attitudes yang dapat diusut dari “pertukaran yang serampangan pada kata ‘fear’ dan ‘anxiety’, yang sebenarnya memiliki perbedaan”, contohnya, fear merepresentasikan reaksi yang lebih realistis pada bahaya yang spesifik, anxiety menunjuk pada respon yang lebih neurotik yang bukan merupakan bagian dari bahaya eksternal yang nyata (Choron, 1974). Selain itu, penelitian empiris mengenai kecemasan kematian sebagian besar tanpa teori (atheoretical), meskipun bukannya tanpa asumsi yang belum diuji. Peterson (1980) menyimpulkan bahwa studi tentang death dan dying “ sangat terbatas baik dari segi metodologi dan teori”.

Walaupun demikian, terdapat beberapa ahli yang mencoba untuk mendefinisikan kecemasan kematian, antara lain Webster’s (1980) menyatakan bahwa Kecemasan kematian (thanatophobia) didefinisikan sebagai ketakutan abnormal yang sangat besar terhadap kematian, dengan perasaan ketakutan atau kekhawatiran yang timbul ketika orang berpikir tentang proses kematian atau apa yang terjadi setelah kematian (Webster `s, 1980).

Kemudian, Janet Belsky (1999) mendefinisikan kecemasan kematian sebagai: “pikiran-pikiran, ketakutan, dan emosi mengenai kejadian akhir kehidupan yang kita alami dibawah kondisi-kondisi kehidupan yang lebih normal”(Belsky, 1999, p. 368).

Kecemasan kematian merupakan fenomena yang kompleks yang mewakili perpaduan dari berbagai proses berpikir dan emosi, antara lain: ketakutan akan kematian, kengerian akan kerusakan fisik dan mental, perasaan akan kesendirian, pengalaman akhir tentang separation anxiety (kecemasan akan keterpisahan), kesedihan tentang akhir dari diri, kemarahan dan perasaan putus asa yang ekstrem tentang sebuah situasi di mana kita tidak memiliki kendali (R. Firestone & J. Catlett, 2009). Kecemasan kematian, dapat disebabkan adanya antisipasi pada keadaan kematian, mencakup aspek-aspek terkait, seperti takut pada proses kematian (Tomer, 1992).

Terror Management Theory (TMT)

Terror Management Theory (TMT) dikembangkan oleh Greenberg, Psyszynski, dan Solomon (1986) dengan mengadaptasi teori Becker. Becker (1973) mengemukakan bahwa ketakutan kematian adalah motivator yang utama dari semua perilaku. Ketika ketakutan kematian disalurkan dengan benar, dapat menjadi kekuatan motivasi untuk mendorong individu menjadi prestasi fenomenal dengan tujuan bahwa mereka akan melampaui prestasi kematian fisiknya.

Manusia memiliki kemampuan kognitif, yang mana membuatnya dapat berkomunikasi dengan simbol, memproyeksikan dirinya dalam ruang dan waktu (Pyszynsko, 2004), mengontrol tingkah laku, dan kreatif (Arndt et al. 2005). Namun ternyata, kemampuan ini membuat manusia dapat menyadari bahwa suatu saat ia akan mati. Kesadaran tentang kematian yang tidak dapat dihindari menyebabkan terror eksistensial dalam diri manusia. Teror ini menghasilkan kecemasan eksistensial, kecemasan yang berhubungan dengan eksistensi manusia di dunia, atau kecamasan kematian (Arndt et al. 2005)

Menurut TMT, manusia menggunakan kemampuan kognitifnya untuk mengatasi kecemasan kematian dengan membangun dua komponen peredam kecemasan budaya, yaitu: (a) pandangan dunia cultural, yaitu sebuah konsepsi realitas simbolik yang dikonstruksi manusia, berisi keyakinan bahwa kehidupan di dunia bersifat teratur, permanen, dan stabil; suatu standar dimana individu dapat mencapai nilai-nilai pribadi; berisi beberapa harapan tentang keabadian literal dan simbolik bagi individu yang hidup di atas standar nilai; dan (b) harga diri, yang diperoleh dengan memenuhi standar nilai yang terdapat dalam pandangan dunia cultural (Pyszczynski, Solomon, & Greenberg, 2003). Perasaan ini membuat individu memperoleh ketenangan hati dalam menghadapi kematian. Budaya menjanjikan keamanan hanya pada orang-orang yang hidup di atas standar nilai budaya, sehingga orang-orang yang ingin memperoleh perlindungan dari kecemasan kematian perlu mencapai nilai dan harga diri tertentu dalam konteks budaya yang bersangkutan (Rosenblatt et al. 1989)

Namun pertahanan ini masih dapat terancam pada individu yang mengalami keadaan sakit yang serius. Seseorang dengan sakit fisik, dapat gagal untuk menyesuaikan diri pada ekspektasi fisik pandangannya terhadap dunia (Mosher & Danoff-Burg 2007). Melihat penyakit atau kecacatan yang diderita oleh orang lain juga dapat memicu ketakutan mengalami nasib yang sama. Mengamati keadaan orang lain yang rentan, dapat merusak pertahanan terhadap perlawanan dari kesadaran akan kematian. Hal tersebut dapat menghasilkan kecemasan kematian yang lebih besar dan penghindaran sosial dari individu yang terpengaruh.

Variabel yang mempengaruhi Kecemasan kematian

Sama halnya dengan kecemasan, kecemasan terhadap kematian sebenarnya juga merupakan pengalaman yang normal karena setiap orang pasti memilikinya, hanya tingkatannya yang berbeda. Dalam buku “The Psychology of Death”, Kastenbaum (2000) menyediakan review yang komprehensif mengenai sikap terhadap kematian dalam budaya Barat. Dia menyatakan bahwa pandangan-pandangan mengenai kematian berkembang sejak tahun prasekolah dan remaja. Terdapat penelitian yang ekstensif pada kecemasan kematian dalam populasi nonklinis. Ringkasan dari penelitian oleh Kastenbaum (2000) menyatakan sejumlah penemuan yang konsisten:

  1. Sebagian besar responden dalam masyarakat tidak melaporkan tingkat yang tinggi dari kecemasan kematian.
  2. Wanita dilaporkan memiliki level kecemasan kematian yang lebih tinggi dari laki-laki.
  3. Dalam studi cross-sectional, orang-orang yang lebih tua secara umum tidak melaporkan level kecemasan kematian yang lebih tinggi daripada orang yang lebih muda, bahkan ketika mereka dipastikan telah mendekati kematian. Perhatian spesifik tentang kematian berbeda-berbeda pada berbagai usia dan di dalam situasi hidup yang berbeda.
  4. Pendidikan dan status sosial ekonomi yang lebih tinggi berhubungan pada level kecemasan kematian yang lebih rendah.
  5. Kepercayaan terhadap agama dan partisipasi terhadap praktik agama yang lebih tinggi tidak berhubungan dengan level kecemasan kematian yang lebih rendah. Hal ini juga disebabkan oleh keyakinan-keyakinan terhadap agama yang memiliki dasar yang berbeda dalam memandang kematian.

Kastenbaum menyampaikan bahwa kecemasan kematian dengan level rendah pada sebagian besar orang mungkin meningkat secara dramatis ketika seseorang mengalamai sebuah periode stress atau ancaman, seperti masalah kesehatan, penyakit, atau kematian dari seseorang yang dekat.

Banyak penelitian yang mencari hubungan antara faktor religiusitas atau agama dengan kecemasan kematian. Dalam sebuah survei terhadap 674 orang dewasa, Duff dan Hong (1995) menemukan bahwa kecemasan kematian secara bermakna dikaitkan dengan frekuensi menghadiri layanan keagamaan. Faktor ini terutama berkaitan dengan kepercayaan dalam kehidupan setelah kematian. Sebagai contoh, Alvarado, Templer, Bresler, dan Thomson-Dobson (1995) menemukan korelasi negatif yang kuat antara kecemasan dan keyakinan kematian di akhirat. Yaitu, jika tingkat kepercayaan pada kehidupan setelah kematian meningkat, tingkat kecemasan kematian berkurang. Kepercayaan pada akhirat dieksplorasi lebih ekstensif oleh Parsuram dan Sharma (1992) yang membandingkan orang-orang dari tiga agama yang berbeda di India: Hindu, Muslim, dan Kristen. Mereka menemukan bahwa orang-orang Hindu (yang memiliki keyakinan terbesar pada hidup sesudah mati) memiliki kecemasan kematian terendah, diikuti oleh kaum Muslim, sementara orang-orang Kristen menunjukkan kecemasan kematian tertinggi. Dalam studi yang lebih baru, Roshdieh, Templer, Cannon, dan Canfield (1999) mempelajari kecemasan kematian dan depresi kematian di antara 1.176 umat Islam Iran yang terkait dengan perang eksposur selama perang Iran-Irak. Mereka menemukan bahwa orang-orang yang menunjukkan kecemasan kematian yang lebih tinggi adalah mereka yang memiliki keyakinan agama yang lemah, tidak yakin pada hidup sesudah mati, dan tidak menyatakan bahwa aspek terpenting dari agama adalah kehidupan setelah kematian.

Kecemasan kematian akan relatif lebih rendah di antara masyarakat yang menegaskan kematian daripada di antara kebudayaan yang menyangkal-kematian atau menantang-kematian. Amerika Serikat, dan mungkin sebagian besar masyarakat di Barat, adalah masyarakat di mana menyangkal-kematian atau menantang-kematian bahkan memiliki idiom untuk mengekspresikan perlawanan. Orang-orang bersumpah untuk tidak pergi dengan mengatakan “good night” (Blake, 1988) atau membayangkan dapat melawan penyakit, atau melawan musuh, bahkan kematian (Kalish & Reynolds, 1981). Di sisi lain, masyarakat lain tampak lebih menerima kematian. Truskese Mikronesia adalah sebuah contoh dari masyarakat yang menegaskan- kematian di mana orang mulai bersiap untuk mati pada usia 40. Penerimaan ini seharusnya memanifestasikan tingkat yang lebih rendah pada kecemasan kematian. Karena aspek ini belum dieksplorasi dalam penelitian sistematis, ini menyajikan konten yang menarik pada agenda penelitian untuk menambahkan variabel-variabel yang mempengaruhi kecemasan kematian.

Terdapat beberapa penelitian lain yang mencari hubungan antara kecemasan kematian dengan umur. Namun, tidak terdapat kekonsistenan antara tingginya tingkat kecemasan kematian dengan bertambahnya usia. Dalam banyak kasus, ditemukan bahwa orang yang lebih tua tampaknya memiliki kecemasan kematian dengan tingkat yang rendah. Populasi muda (usia sekolah terutama SMA dan mahasiswa) cenderung untuk melaporkan tingkat yang lebih tinggi dari kecemasan kematian pada orang tua. Alasan untuk perbedaan ini tidak jelas.

Selain hal tersebut, banyak penelitian yang menyebutkan bahwa orang dengan gangguan mental dan emosional cenderung memiliki tingkat kecemasan kematian yang tinggi daripada populasi umum.

Implikasi kecemasan kematian

Memiliki tingkat kecemasan kematian tertentu mungkin mendorong individu untuk melakukan beberapa kegiatan-kegiatan produktif serta menahan diri dari pilihan hidup berisiko tertentu. Namun, jika kecemasan kematian menjadi terlalu kuat, hal itu mungkin mengganggu rutinitas sehari-hari dengan normal. Ada beberapa cara untuk membantu orang mengatasi ketakutan mereka terhadap kematian. Salah satu cara, diusulkan oleh Kalish (1984, 1987) adalah untuk menjalani hidup sepenuh-penuhnya. Alasan di sini adalah bahwa jika orang itu mati, ia tidak akan punya rasa hidupnya sia-sia, dan karenanya akan memiliki sedikit penyesalan. Cara lain untuk mengurangi kecemasan kematian kematian adalah melalui pendidikan. Ada beberapa program-program dan masing-masing memiliki sifat topik yang berbeda, tetapi cenderung untuk fokus di topik-topik seperti agama, filsafat, etika, psikologi, dan obat-obatan. Mereka juga mendiskusikan isu-isu yang melibatkan proses kematian, kesedihan dan kehilangan. Pendidikan Kematian membantu terutama untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap berbagai emosi yang dialami oleh orang-orang sekarat dan keluarga mereka. Penelitian mengevaluasi pengalaman orang-orang yang telah menjalani pelatihan dalam lokakarya pengalaman ini menunjukkan bahwa hal tersebut efektif dalam menurunkan kecemasan kematian (Abengozar, Bueno, & Vega, 1999).

Referensi:

Kastenbaum, Robert. 2000. The Psychology of Death, 3rd ed. Springer Publishing Company: New York

Firestone, Robert.2009. Beyond Death Anxiety. Springer Publishing Company: New York

 

 

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender

November 2010
S S R K J S M
    Mei »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
%d blogger menyukai ini: