//
you're reading...
Uncategorized

FILM HOROR

Mengapa kita mendapatkan kesenangan dari emosi yang tidak menyenangkan ??

Akhir-akhir ini bioskop Indonesia di penuhi dengan film-film horror. Meskipun sebagian besar film horror Indonesia tidak hanya menjual rasa ngeri untuk mengikat konsumen. Di sini, kita hanya akan membahas film horror sesungguhnya (film yang benar-benar memberikan kengerian) sebutlah salah satu film horror Indonesia yang cukup sukses, misalnya Jalangkung, mungkin ada beberapa orang yang menghindari film tersebut, namun sebagian besar orang menontonya, dan menikmatnya, walaupun kita akan mendapatkan pengalaman dan sensasi yang ganjil dan berakhir dengan perasaan semangat, kemudian dengan ceria mendiskusikannya.

Pernahkan Anda mempertanyakan, mengapa kita melakukannya? Mengapa kita menikmati emosi yang paling negatif dari emosi-emosi yang negatif, yaitu rasa takut?

Pertanyaan ini pernah dijawab oleh Aristoteles. Mengapa kita masih menikmati kehidupan dengan hal-hal buruk di dalamnya? Mengapa kita menikmati tragedi? Menurut Aristoteles kita belajar bahkan dari hal-hal yang buruk atau menyakitkan, dan kita senang belajar, yaitu dengan “mengumpulkan makna dari segala sesuatu.”. Aristoteles memberikan sebuah jawaban kognitif.

Teori evolusi menunjukkan jawaban yang berbeda. Rasa takut dan jijik merupakan sinyal bahaya, dan kita melakukannya dengan baik, kita memberikan perhatian yang lebih pada perasaan ini dalam rangka memaksimalkan peluang kita untuk bertahan hidup dan reproduksi. Tapi, evolusi tidak menjelaskan mengapa kita mencari sensasi rasa takut, jijik, atau kemarahan dalam karya seni seperti dalam film horor.

Tampaknya hal yang penting adalah bahwa kita tidak perlu bertindak untuk merespon apa yang kita takuti ketika kita menonton film Horor. Kita tidak perlu lari terbirit-birit saat ada hantu yang muncul di film. Kita hanya menikmati pengalaman tersebut. Atau saat kita melihat psikopat, kita tidak perlu memanggil polisi atau berlari-lari untuk sembunyi. Inilah perbedaan antara fiksi dan aktual.

Fiksi (tidak perlu bertindak untuk merespon rangsangan emosional) mengarah pada kesenangan. Aktual (harus memutuskan mengenai tindakan yang dilakukan sebagai respons terhadap rangsangan emosional) mengarah bukan untuk kesenangan, tetapi untuk perencanaan aktivitas motorik, yang selanjutnya memerlukan aktivitas otak. Dengan Film horor(dan contoh-contoh lain dalam sastra emosi negatif), kita mengalami relaksasi karena mengetahui bahwa kita tidak perlu melakukan apa-apa tentang situasi yang membahayakan, sehingga dengan sendirinya menyenangkan.

Mengapa demikian? Penjelasan yang mungkin adalah bahwa kita menghemat energi psikis. Mungkinkah setiap kali kita mengalami penghematan energi, otak kita mengalami kesenangan?

Kita dapat memahaminya melalui penjelasan Freud tentang mengapa kita tertawa pada hal yang lucu. Sangat singkat, ia mengklaim bahwa terdapat tiga bentuk humor yang melibatkan pelepasan energi yang sebelumnya digunakan untuk inhibisi oleh superego atau kognisi oleh ego. Kelebihan energi, ia menyatakan, akan dilepaskan sebagai tawa.

Jadi, pada umumnya, jika otak kita tiba-tiba merasakan pembebasan dari energi yang sebelumnya telah dikerahkan untuk beberapa tindakan di dunia luar, kita merasa senang. Begitu pula yang terjadi saat kita menikmati sastra, cerita, puisi, drama, atau film, dalam rangka merangsang emosi kita, bahkan pada hal-hal yang tidak menyenangkan. Kita melakukannya, karena melalui hal-hal ini (bahkan melalui karya sastra) terjadi sebuah pelepasan energi psikis yang berkelanjutan dari pengetahuan yang ada di kortikal (upaya otak), pada tingkat kognitif bahwa kita tidak harus merespon terhadap sub-kortikal ini, yaitu sinyal emosional. Kita tahu sebelum kita memasuki bioskop bahwa kita akan mengalami perasaan takut yang tidak menyenangkan selama menonton film, tetapi kita juga tahu bahwa kita akan merasakan kenikmatan (bahkan selama rasa takut!) Karena kita tahu bahwa kita tidak perlu melakukan apa-apa mengenai hal tersebut.

Sumber: http://www.psychologytoday.com/blog/is-your-brain-culture/201001/why-are-there-horror-movies

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender

November 2010
S S R K J S M
    Mei »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
%d blogger menyukai ini: