//
you're reading...
Patologi Anak

Fobia Sosial pada Anak dan Remaja

Definisi Fobia Sosial

Kata fobia berasal dari bahasa Yunani, phobos, yang berarti “takut”. Konsep takut dan cemas bertautan erat. Takut adalah perasaan cemas dan agitasi sebagai respon terhadap suatu ancaman (Rathus & Greene, 2005).

Perbedaan fobia spesifik dengan fobia general yaitu pada fobia spesifik contohnya adalah takut berbicara di depan umum, sedangkan fobia general yaitu individu itu mengalami cemas, gelisah dan tidak nyaman di hampir seluruh situasi sosial (Klinger et.al., 2006).

Fobia sosial adalah ketakutan menetap dan tidak rasional yang umumnya berkaitan dengan keberadaan rang lain (Davidson dkk., 2006:185). Individu yang menderita fobia sosial biasanya mencoba menghindari situasi di mana ia mungkin dinilai dan menunjukkan tanda-tanda kecemasan atau berperilaku secara memalukan. Ketakutan yang ditunjukkan dengan keringat berlebihan atau memerahnya wajah merupakan hal jamak. Berbicara atau melakukan sesuatu di depan public, makan di tempat umum, menggunakan toilet umum, atau hampir semua aktivitas lain yang dilakukan di tempat yang terdapat orang lain dapat menimbulkan kecemasan ekstrem, bahkan serangan panik (Davidson dkk., 2006:186).

Fobia sosial dapat bersifat umum atau khusus, tergantung rentang situasi yang ditakuti dan dihindari. Orang-orang dengan tipe umum mengalami fobia ini pada usia yang lebih awal, lebih banyak komorbiditas dengan berbagai gangguan lain, seperti depresi dan kecanduan alcohol dan hendaya yang lebih parah (Mannuza dkk., 19995; Wittchen, Stein, & Kessler, 1999). Gangguan anxietas sosial cenderung menjadi kronis jika penanganannya tidak berhasil.

Meskipun orang dengan dan tanpa gangguan kecemasan sosial merespon dengan tekanan darah dan denyut nadi yang meningkat saat memulai pidato, orang yang tanpa gangguan dengan cepat dapat menyesuaikan diri dengan situasi, dan tekanan darah dan denyut nadi kembali ke tingkat dasar. Hal ini menunjukkan bahwa mereka menjadi relatif nyaman dalam situasi tersebut. Namun, tekanan darah dan denyut nadi orang-orang dengan gangguan kecemasan sosial tetap meningkat pada keseluruhan tugas. Dengan demikian, individu dengan fobia sosial tidak pernah menyesuaikan diri secara fisiologis dengan keadaan.

Prevalensi

Fobia sosial cukup jamak terjadi dengan angka prevalensi sepanjang hidup 11 persen pada laki-laki dan 15 persen pada perempuan (Kessler dkk., 1994; Magee dkk., 1996). Fobia ini memiliki tingkat komorbiditas tinggi dengan berbagai gangguan lain dan sering kali terjadi bersamaan dengan gangguan menghindar, gangguan mood, dan penyalahgunaan alkohol (Crum & Pratt, 2001; Jansen dkk., 1994; Kessler dkk., 1999; Lecrubier & Weiller, 1997). Seperti yang diduga, awal terjadinya biasanya pada masa remaja, saat kesadaran sosial dan interaksi dengan orang lain menjadi sangat penting dalam kehidupan seseorang, namun ketakutan semacam itu juga ditemukan pada anak-anak. Fobia sosial cukup bervariasi dalam berbagai budaya Sebagai contoh, di Jepang ketakutan menyakiti orang lain merupakanhal yang sangat penting, sedangkan di Amerika Serikat ketakutan dinilai secara negatif oleh orang lain lebih jamak.

Fobia sosial biasanya dimulai pada masa kanak-kanak atau remaja, biasanya pada usia 13 tahun. Diagnosis bahwa seseorang mengalami fobia sosial jika orang tersebut memiliki gejala setidaknya selama 6 bulan. Fobia sosial biasanya bermula pada masa kanak-kanak atau remaja dan seringkali diasosiasikan dengan riwayat rasa malu (USDHHS, 1999a). orang-orang dengan fobia sosial umumnya melaporkan bahwa mereka pemalu semasa kanak-kanak (Stemberger dkk., 1995). Sekali fobia sosial tercipta, hal tersebut akan berlanjut pada perjalanan yang kronis dan persisten sepanjang hidup (Rathus & Greene, 2005).

Etiologi

A. Pendekatan Psikoanalisis

Menurut Freud, fobia sosial atau hysteria‑ansietes merupakan manifestasi dari konflik Oedipal yang tidak terselesaikan. Hal ini menyebabkan terjadinya konflik dan kecemasan. Akibatnya, ego berusaha menggunakan mekanisme‑pertahanan represi yaitu membuang jauh dari kesadaran. Konflik seksual ditransfer dari orang yang mencetuskan konfilk kepada sesuatu yang sepertinya tidak penting atau objek yang tidak relevan atau situasi yang sakarang mempunyai kekuatan untuk membangkitkan anxietas. Situasi atau obyek yang dipilih atau disimbolkan biasanya berhubungan langsung dengan sumber konflik. Dengan menghindari objek tersebut pasien dapat lari dari penderitaan anxietas yang serius.

B. Pendekatan behavioral

Literatur behavioral membuktikan fakta bahwa perilaku takut sering dihasilkan dari emosi negatif atau pengalaman traumatik (Watson & Rayner, 1920). Selama wawancara klinis, banyak orang dengan gangguan fobia sosial melaporkan sebuah kejadian traumatik masa lalu yang diasosiasikan dengan onset gangguan mereka. Kadang-kadang bahkan masalah dengan sosialisasi dan performa muncul sebelum kejadian tertentu karena pasien mengatribusi banyak episode traumatik sebagai penyebab kondisi saat ini (misalnya kejadian yang memperburuk ketakutannya). Dalam survey yang didesain untuk memeriksa ketakutan dan kecemasan, 58% orang dengan gangguan kecemasan sosial menunjukkan onset mereka pada terjadinya peristiwa traumatik (Ost, 1985). Ketika prevalensi pengalaman traumatik yang dikondisikan pada pasien dengan gangguan kecemasan sosial dibandingkan dengan partisipan kontrol yang tidak memiliki gangguan, sebanyak 44 % dari orang yang memiliki gangguan kecemasan sosial merecall pengalaman yang dikondisikan yang menandai onset ketakutan-ketakutan sosial mereka (Stemberger, Turner, Beidel, & Calhoun, 1995).

C. Pendekatan Kognitif

Sudut pandang kognitif terhadap kecemasan secara umum dan fobia secara khusus berfokus pada bagaimana proses berfikir manusia dapat berperan sebagai diathesis dan pada bagaimana pikiran dapat membuat fobia menetap. Kecemasan dikaitkan dengan kemungkinan yang lebih besar untuk menanggapi stimulasi negatif, menginterpretasi informasi yang tidak jelas sebagai informasi yang mengancam, dan mempercayai bahwa kejadian negatif memiliki kemungkinan lebih besar untuk terjadi di masa mendatang (Heinrichs & Hoffman, 2000; turk dkk, 2001). Isu utama dalam teori ini adalah apakah kognisi tersebut menyebabkan kecemasan atau apakah kecemasan menyebabkan kognisi tersebut. Walaupun beberapa bukti eksperimental mengindikasikan bahwa cara menginterpretasi stimuli dapat menyebabkan kecemasan di laboratorium (Matthews & McKintosh, 2000), namun tidak diketahui apakah bias kognitif menjadi penyebab gangguan anxietas.

Teori kognitif mengenai fobia juga relevan untuk berbagai fitur lain dalam gangguan ini. Rasa takut yang menetap dan fakta bahwa ketakutan tersebut sesungguhnya tampak irasional bagi mereka yang mengalaminya. Fenomena ini dapat terjadi karena rasa takut terjadi melalui proses-proses otomatis yang terjadi pada awal kehidupan dan tidak disadari. Setelah proses awal tersebut, stimulasi dihindari sehingga tidak diproses cukup lengkap dan yang dapat menghilangkan rasa takut tersebut (Amir. Foa, & Coles, 1998).

D. Pendekatan Biologis

  1. Teori Neurotransmiter

1)      Mekanisme Dopaminergik

Dari penelitian didapatkan bahwa fobia sosial berhubungan dengan gangguan pada system dopaminergik. Kadar homovanilic acid (HVA) pada penderita fobia sosial lebih rendah blia dibandingkan dangan penderita panik atau kontrol. Adanya perbaikan gejala fobia sosial dengan pemberian monoamine oxidase inhibitor (MAOI) menunjukkan bahwa kinerja dopamine terganggu pada fobia sosial.

2)      Mekanisme Serotonergik

Pemberian fenilfluramin pada panderita fobia sosial menyebabkan peningkatan kortisol sehingga diperkirakan adanya disregulasi serotonin. Walaupun demikian, pada pemberian methchlorphenylpiperazine (MCPP), suatu serotonin agonis, tidak ditemukan adanya perbedaan respons prolaktin antara penderita fobia sosial dengan kontrol normal. Begitu pula, pengukuran ikatan platelet (3H)‑paroxetine, suatu petanda untuk mangetahui aktivitas serotonin; tidak terlihat adanya perbedaan antara fobia sosial dengan gangguan panik atau kontrol normal.

3)      Mekanisme Noradrenergik

Penderita fobia sosial sangat sensitif terhadap perubahan kadar epinefrin sehingga dengan cepat terjadi peningkatan denyut jantung, berkeringat dan tremor. Pada orang normal, gejala fisik yang timbul akibat peningkatan epinefrin mereda atau menghilang dengan cepat. Sebaliknya pada penderita fobia sosial tidak terdapat penurunan gejala. Bangkitan gejala fisik yang meningkat semakin mengganggu penampilan di depan umum. Pengalaman ini juga membangkitkan kecamasan pada penampilan berikutnya sehingga mengakibatkan orang tidak berani tampil dan menghindari panampilan selanjutnya.

4)      Pencitraan Otak

Dengan magnetic resonance imaging (MRI) terlihat adanya penurunan volume ganglia basalis pada penderita fobia sosial. Ukuran putamen berkurang pads fobia sosial.

Gejala

Kriteria diagnostik untuk fobia sosial menurut DSM-IVTR adalah:

  1. Ketakutan yang mencolok dan menetap pada satu atau lebih situasi atau performa sosial yang mana seseorang di ekspose pada orang-orang yang tidak familiar atau pada kemungkinan diperhatikan secara cermat oleh orang lain. Ketakutan individual yang membuat orang tersebut akan beraksi pada cara tertentu (atau menunjukkan simtom kecemasan) yang akan membuatnya merasa dipermalukan. Catatan: pada anak-anak, harus terdapat bukti dari kapasitas hubungan sosial untuk anak seusianya dan orang-orang yang dikenal dan kecemasan harus terjadi dalam setting teman sebaya, tidak hanya pada interaksi dengan orang dewasa.
  2. Paparan pada situasi sosial hampir selalu menimbulkan kecemasan, yang mana mungkin berbentuk kecenderungan serangan panik. Catatan: pada anak-anak, kecemasan dapat diekspresikan dengan menangis, tantrum, membeku, atau malu-malu dari situasi sosial dengan orang-orang yang tidak familiar.
  3. Orang mengenali bahwa ketakutannya berlebihan atau tidak masuk akal. Catatan: pada anak-anak, ciri ini mungkin tidak muncul.
  4. Situasi atau performa sosial yang ditakutkan dihindari atau ditahan dengan kecemasan atau distress yang intens.
  5. Penghindaran, antisipasi kecemasan, atau distress dalam situasi atau performa sosial yang ditakuti mengganggu aktivitas normal rutin, fungsi akademik, atau aktivitas atau hubungan sosial secara signifikan atau terdapat distress yang mencolok karena memiliki fobia.
  6. Pada individu dibawah 18 tahun, durasi paling sedikit 6 bulan
  7. Ketakutan atau penghindaran bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya penyalahgunaan obat, pengobatan) atau kondisi medis umum dan lebih baik tidak dilaporkan dengan gangguan mental lain (misalnya gangguan panik dengan atau tanpa agorafobia, gangguan separation anxiety, gangguan tubuh dismorfik, gangguan perkembangan pervasif, atau gangguan kepribadian skizoid).
  8. Jika terdapat kondisi medis secara umum atau gangguan mental lain, ketakutan dalam kriteria A tidak berkaitan pada penyakit tersebut, misalnya ketakutan bukan dari gagap gemetar pada penyakit Parkinson, atau menunjukkan perilaku makan yang abnormal pada Anorexia Nervosa atau Bulimia Nervosa.

Kriteria diagnostik untuk ICD-10 gangguan social anxiety pada Anak:

  1. Kecemasan yang menetap dalam situasi sosial yang mana anak harus menghadapi orang yang tidak dikenal, termasuk teman sebaya, dimanefestasikan dengan perilaku menghindar secara sosial.
  2. Anak menunjukkan kesadaran diri, malu, atau sangat kuatir mengenai ketidaktepatan perilakunya ketika berinteraksi dengan orang yang tidak dikenali.
  3. Terdapat gangguan yang signifikan dengan hubungan sosial (termasuk teman sebaya), yang mana mengakibatkan keterbatasan; ketika menghadapi situasi yang baru, hal itu menyebabkan tanda-tanda distress dan tidak nyaman yang dimanifestasikan dengan menangis, kurangnya pembicaraan spontan atau menarik diri dari situasi sosial.
  4. Anak memiliki hubungan sosial yang memuaskan dengan figur yang familiar (anggota keluarga atau teman sebaya yang dia kenal baik).
  5. Onset gagguan biasanya bersamaan dengan perkembangan fase dimana reaksi kecemasan ini dipertimbangkan dengan tepat. Tingkat abnormal, menetap dan gangguan yang berhubungan harus dimanifestasikan sebelum usia 6 tahun.
  6. Kriteria gangguan kecemasan secara umum tidak ditemukan pada anak
  7. Ganggua tidak terjadi sebagai bagian dari gangguan emosi, gangguan perilaku atau kepribadian, atau gangguan perkembangan pervasive, gangguan psikotik atau gangguan penggunaan obat-obatan psikoaktif.
  8. Durasi dari ganguan sekurang-kurangnya 4 minggu.

Referensi:

American Psychiatric Association. (1994). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (4th.ed.).Washington, DC: American Psychiatric Press.

Antony, M. M., Orsillo, S. M., & Roemer L. (2002). Practitioner’s Guide to Empirically Based Measures of Anxiety. New York: Kluwer Academic Publishers

Beidel, D. C. & Turner, S. M. (2007). Shy Children, Phobic Adults : Nature and Treatment of Social Anxiety Disorder (2nd ed). Washington, DC: American Psychological Association

Connor, K. M., Davidson, J. R. T., Churchill, L. E., Sherwood, A., Foa, E., & Wesler, R. H. (2000). Psychometric properties of the Social Phobia Inventory (SPIN). British Journal of Psychiatry, 176, 379–386)

Csóti, Márianna (2003). School Phobia, Panic Attacks and Anxiety in Children. London: Jessica Kingsley Publishers

Davidson, Gerald C. dkk. (2006). Psikologi Abnormal (edisi ke- 9) (terjemahan Noermalasari Fajar). Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada

Nevid, J. S., Rathus, S. A., & Greene, B. 2005. Psikologi Abnormal Edisi Kelima Jilid I. Jakarta: Erlangga.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender

November 2010
S S R K J S M
    Mei »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
%d blogger menyukai ini: