//
you're reading...
Patologi Anak

Mengenal Fobia Sekolah

Fobia sekolah bukan fobia sebenarnya. Fobia ini jauh lebih kompleks dan meliputi gangguan kecemasan perpisahan (separation anxiety), agoraphobia, dan fobia sosial, meskipun kecemasan dipusatkan di sekitar lingkungan sekolah. Anak yang mengalami fobia sekolah biasanya takut meninggalkan lingkungan rumah yang aman dan kehadiran pengasuhnya.

Anak yang mengalami kecemasan perpisahan dapat mengalami simtom/gejala yang sama ketika ditinggalkan di rumah temannya, sama seperti ketika ditinggalkan di sekolah. Anak yang mengalami agoraphobia dapat mengalami simtom-simtom yang sama di dalam bioskop, sama seperti di bus sekolah. Sedangkan anak lain yang mengalami fobia sosial mungkin mengalami simtom yang sama, misalnya ketika diminta untuk membaca dengan keras di sebuah tempat ibadah; sehingga tidak hanya sekolah yang menyebabkan simtom distress ini.

Namun, karena simtom yang tidak menyenangkan ini terjadi secara relatif menetap di sekitar lingkungan sekolah, tidak selalu jelas apa penyebab sesungguhnya masalah anak tersebut. Anak dapat sangat terpengaruh sehingga ia tidak bisa masuk sekolah; umumnya disebut fobia sekolah. Beberapa professional lebih memilih untuk menyebutnya penolakan sekolah (school refusal) atau penghindaran sekolah, tetapi, kebingungan dapat terjadi jika orang berpikir bahwa ini termasuk anak yang membolos tanpa mengalami kecemasan mengenai sekolah dan yang tidak merasa bersalah atau cemas karena tidak masuk sekolah.

Apakah Anak Membolos?

Fobia sekolah adalah sebuah payung istilah untuk anak yang tidak ingin pergi ke sekolah karena kecemasan, dan kecemasannya tersebut menahannya untuk tetap di rumah. Ini berlawanan dengan anak yang membolos, yang dengan sengaja tidak pergi ke sekolah dan biasanya tidak tinggal di rumah (anak yang lebih tua atau remaja yang membolos sering menunjukkan perilaku anti-sosial, seperti terlibat dalam aktivitas kriminal). Anak lain yang membolos lebih memilih untuk bermain di rumah, melakukan hal yang lebih menarik daripada di sekolah, dan berusaha mendapatkan ijin orangtuanya untuk tetap di rumah, tetapi mereka tidak mengalami ketakutan.

Anak dengan fobia sekolah yang tidak masuk sekolah karena simtom-simtom mereka yang sangat berat bukan lah pembolos, karena mereka memiliki kecemasan khusus mengenai sekolah dan mereka tetap di rumah dengan sepengetahuan orangtuanya, dan mungkin, kehadiran orangtuanya. Anak-anak ini adalah anak dengan kebutuhan khusus dan sebaiknya ditangani dengan cara yang sensitif dan peduli, karena mereka mungkin juga akan sangat sensitif dan pemalu, merasa takut dianggap gagal.

Tipe Fobia Sekolah

Terdapat dua tipe fobia sekolah. Yang pertama berhubungan dengan kecamasan perpisahan (separation anxiety) yang secara umum ditemukan pada anak-anak hingga usia 8 tahun (meskipun anak yang lebih tua dapat mengalaminya juga: semakin lama kecemasan perpisahan berlanjut, semakin sulit untuk diobati). Anak yang lebih muda kurang mungkin untuk belajar merasa percaya diri dan mandiri ketika jauh dari orangtuanya. Onset dari kecemasan perpisahan biasanya tiba-tiba terjadi pada anak-anak, yang secara alami akan berkurang setelah berumur 3 tahun, meskipun dapat dimulai dari umur 6 sampai 8 bulan dan berlanjut kemudian.

Tipe kedua yang paling banyak mempengaruhi anak-anak di atas 8 th dan berkisar pada aspek sosial sekolah, dapat dianggap sebagai fobia sosial. Onset dari gangguan ini bertahap, dan dapat dimulai dari peningkatan kesadaran diri sekitar waktu pubertas.

Kadang-kadang, masalahnya terletak saat pergi ke sekolah; anak dapat mengalami agoraphobia. Meskipun gangguan ini biasanya merupakan perluasan dari masalah kecemasan lain yang anak miliki dan mungkin juga akan muncul pada anak yang memiliki kecemasan perpisahan. Anak mungkin ingin agar orangtuanya mengantarnya ke sekolah karena takut bahwa sesuatu yang memalukan dapat terjadi di dalam bus atau kereta, dan tidak merasa aman kecuali bersama dengan seseorang yang dapat menjaganya ketika ia merasa panik.

3 kelompok yang paling banyak mengalami fobia sekolah

  • Pertama, anak yang berumur 5 sampai 7 tahun, dan dihubungkan dengan kecemasan perpisahan.
  • Kedua, didominasi oleh anak berumur 11 sampai 12 tahun, yang disebabkan oleh kecemasan yang berhubungan dengan perubahan dari SD ke SMP, dan dihubungkan dengan fobia sosial.
  • Ketiga, anak yang berumur 14 sampai 16 tahun dan dihubungkan pada fobia sosial dan gangguan lain seperti depresi dan fobia lain.

Terdapat sedikit peningkatan kecemasan perpisahan ketika anak mengalami perubahan bangunan sekolah ketika mereka pindah dari SD ke SMP, atau dari TK ke SD pada umur 7 atau 8 tahun. Ketakutan anak-anak ketika memulai atau pindah sekolah biasanya berkembang selama awal bulan.

Indikator Anak yang Rentan Mengalami Fobia Sekolah

Terdapat karakteristik keluarga yang mengindikasikan apakah anak memiliki kecenderungan untuk lebih rentan mengalami gangguan kecemasan seperti fobia sekolah. Indikatornya adalah:

  • Terdapat anggota keluarga lain yang menderita masalah yang berhubungan dengan emosi atau kecemasan.
  • Orangtua yang bersikap overprotektif terhadap anak. Hal ini menyebabkan anak lebih sering bergantung pada orangtuanya dan takut pergi sendiri.
  • Anak memiliki ibu yang sangat pencemas, dan kecemasan ibunya dapat terpancar pada anaknya, sehingga membuat anak merasa bahwa ia memiliki alasan untuk cemas. (anak juga dapat meniru ibunya, dan berperilaku dengan cara yang sama dengan ibunya, cemas mengenai hal yang sama)
  • Anak memiliki ayah yang hanya memainkan sedikit peran (atau tidak sama sekali) dalam pengasuhannya
  • Anak yang merupakan anak bungsu dalam keluarga sering menjadi yang paling rentan mengalami gangguan kecemasan karena ia dianggap selalu menjadi ‘bayi’ keluarga dan diperlakukan seperti itu. Apalagi, ketika orangtua tahu bahwa mereka tidak akan memiliki anak lagi, mereka kadang-kadang ingin menjaga anaknya tersebut sangat dekat dengan mereka dan, tanpa mereka sadari anak tersebut menjadi terlalu tergantung pada mereka.
  • Anak memiliki penyakit kronis sehingga butuh untuk lebih tergantung pada orangtuanya dan tidak memiliki kepercayaan diri untuk merasa sehat dan kuat dan mampu untuk mengatasi masalah kehidupan.
  • Anak sering berperilaku baik dan mampu secara akademis.

Fobia sekolah dapat berkembang sebagai hasil dari depresi, yang membuat anak merasa bahwa ia tidak mungkin mampu mengatasi tekanan dan tantangan dari sekolah, atau sebagai hasil dari peningkatan jumlah ketakutan dan stressor.

Simtom-Simtom Fobia Sekolah

Apapun gangguan yang dialami anak, ia dapat mengalami simtom kecemasan di bawah ini:

  • Menangis
  • Diare
  • Merasa lemas
  • Sering buang air kecil
  • Pusing
  • Hiperventilasi (bernafas secara cepat)
  • Insomnia
  • Mual dan muntah
  • Detak jantung cepat
  • Bergetar
  • Sakti perut
  • Berkeringat

Anak yang mengalami fobia sekolah merasa sangat tidak sehat ketika harus pergi ke sekolah. Akan tetapi, simtom menghilang ketika ia diijinkan tidak sekolah walaupun dapat muncul lagi ketika ia diharuskan kembali sekolah.

Bagaimana Fobia Sekolah Bermula?

Pergi ke sekolah untuk pertama kali merupakan periode kecemasan yang besar bagi anak. Banyak anak yang akan dipisahkan dari orangtuanya untuk pertama kali, atau akan dipisahkan sepanjang hari untuk pertama kalinya. Perubahan yang tiba-tiba ini dapat membuat mereka cemas dan mereka mungkin mengalami kecemasan perpisahan. Mereka juga mungkin tidak dibiasakan menghabiskan seluruh hari secara terorganisasi dan membuat mereka sangat lelah pada akhir hari, hal ini menyebabkan stres lebih lanjut dan membuat mereka merasa sangat rentan.

Untuk anak yang lebih tua yang bukan baru masuk sekolah, kembali masuk sekolah setelah libur panjang atau sakit, dapat menjadi peristiwa traumatik. Mereka tidak lagi merasa di rumah. Persahabatan dapat berubah dan digantikan dengan teman-teman baru. Guru dan kelas mungkin juga berubah. Mereka mungkin telah terbiasa di rumah dan dekat dengan penjagaan orangtuanya, sehingga merasa tidak aman ketika semua perhatian hilang dan tiba-tiba mereka dibawah pengawasan gurunya kembali.

Anak yang lain mungkin merasa tidak nyaman di dalam bus sekolah atau di dalam sekolah dan menghubungkan tempat ini dengan simtom panik yang muncul kemudian, sehingga sangat ingin menghindarinya, supaya simtom panik dan serangan panik yang menakutkan, misalnya, muntah, pingsan, atau diare tidak terjadi. Anak lain mungkin mengalami peristiwa penuh stres.

Kemungkinan Pemicu Fobia Sekolah meliputi :

  • Diganggu oleh anak lain (mengalami bullying)
  • Memulai sekolah untuk pertama kali
  • Pindah ke sekolah baru dan harus masuk ke sekolah baru dan berteman dengan teman-teman baru.
  • Tidak sekolah untuk waktu yang lama karena sakit atau liburan
  • Kehilangan (seseorang atau hewan peliharan)
  • Merasa terancam oleh kedatangan bayi baru
  • Mengalami pengalaman traumatik seperti disiksa, diperkosa, atau menjadi saksi peristiwa tragis
  • Masalah di rumah seperti anggota keluarga sakit
  • Masalah di rumah seperti perceraian, pemisahan
  • Kekerasan dalam rumah tangga atau penyiksaan anak
  • Tidak memiliki teman yang baik
  • Tidak populer, dipilih pada urutan terakhir dalam kelompok, dan merasa gagal secara fisik (dalam permainan)
  • Merasa gagal secara akademik
  • Takut pada serangan panik ketika perjalanan ke sekolah atau ketika sekolah.

sumber: 

Csóti, Márianna (2003). School Phobia, Panic Attacks and Anxiety in Children. London: Jessica Kingsley Publishers

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender

Mei 2011
S S R K J S M
« Nov    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
%d blogger menyukai ini: